Di cerita perjalanan saya yang kedua ini, kita pergi ke perkebunan di teh di Maleber Jawa Barat. Sama seperti perjalanan ke Sumurugul, perjalanan ini juga hanya 2 hari dan 1 malam tetapi menurut saya perjalanan ini lebih menantang dari perjalanan sebelumnya. Ada pendatang baru yaitu Mas Joki, dia baru saja membeli XRX berwarna orange. Meskipun dia baru ikut sebagai pengendara XRX pertama kali, jam terbang dia touring dengan motor sudah tinggi. Om Anangga tidak ikut pada perjalanan ini dan yang lainnya tetap sama seperti perjalanan ke Sumurugul yaitu Pak Bowo, Mas Indra, Hilmi, dan Enggar.
Cerita perjalanan ini cukup panjang, jadi saya akan bagi menjadi 2 bagian. Bagian ini adalah bagian prologue, menceritakan kejadian sebelum kita berangkat ke Maleber. Tetapi saya mohon maaf jika bagian ini tidak ada foto2 yang bersangkutan karena pada saat ini kita tidak mengambil foto2, tetapi di Maleber nanti bagian kedua, saya akan memasukan foto-foto yang banyak. Selamat membaca!
Cerita perjalanan ini cukup panjang, jadi saya akan bagi menjadi 2 bagian. Bagian ini adalah bagian prologue, menceritakan kejadian sebelum kita berangkat ke Maleber. Tetapi saya mohon maaf jika bagian ini tidak ada foto2 yang bersangkutan karena pada saat ini kita tidak mengambil foto2, tetapi di Maleber nanti bagian kedua, saya akan memasukan foto-foto yang banyak. Selamat membaca!
Hari itu hari Jumat. Saya dan Hilmi kembali berkumpul di rumah Pak Bowo dari sore hari untuk membawa motor kita ke bengkel untuk dipersiapkan untuk besok pagi berangkat ke Maleber. Motor saya dan Hilmi hanya servis ringan saja. Pada malam harinya saya, Hilmi, dan Pak Bowo pergi menuju Kalibata untuk berkumpul dengan anak2 Supermoto Indonesia. Rencana yang seharusnya menyenangkan ternyata menyimpan beberapa kejutan.
Sebelum pergi ke Kalibata kita akan mampir sebentar ke Pasar Festival di Kuningan. Konvoi lah kita bertiga menuju Kuningan dari Bintaro. Motor saya terasa enak sekali saat itu, kita mengebut bertiga melibas jalan raya. Pada saat di jalan Casablanca depan ITC Kuningan itu, tali kopling saya lepas! Saya kaget dan kagok karena ini pertama kalinya mengalami putus kopling. Mau gak mau saya harus menjaga kecepatan motor agar tidak berhenti atau mesin akan mati, rasanya seperti di film "Speed". Segera saya beritahu Hilmi dan Pak Bowo mengenai motor saya dan semua langsung mengikuti kecepatan motor saya.
Berhentilah kita di Pasar Festival. Pak Bowo mengajarkan saya cara mengendarai motor dengan kopling putus yaitu kita tetap berada di gigi rendah agar tidak terlalu banyak perubahan gigi tanpa kopling. Dari kondisi stop kita pasang gigi ke posisi netral dan mesin dalam keadaan menyala. Kita dorong motor kita dengan kaki (sambil tetap mengendarai di atas motor) dan ketika motor sudah mempunyai kecepatan, pindahkan gigi ke gigi satu dan motor akan menyentak terkejut. Imbangi dengan tarikan gas yang sesuai. Jalan kan dalam gigi satu dan jika diperlukan pindahkan ke gigi 2 dengan cara yang sama. Nah, trik dari ini adalah jika kita kehilangan kecepatan, segera pindahkan gigi ke gigi netral agar nafas motor tidak habis diputaran bawah. cukup simpel kan? jalan netral jalan netral saja. Dari kuningan saya begitu terus hingga dekat Taman Makam Pahlawan mampir ke bengkel motor untuk membeli tali kopling motor. Untuk XRX dibutuhkan tali kopling yang panjang, cari tali kopling untuk vespa karena panjangnya yang pas. Tapi kita tidak memasangnya di bengkel itu karena Pak Bowo bilang mendingan pasangnya di tempat nongkrong nanti.
Berhentilah kita di Pasar Festival. Pak Bowo mengajarkan saya cara mengendarai motor dengan kopling putus yaitu kita tetap berada di gigi rendah agar tidak terlalu banyak perubahan gigi tanpa kopling. Dari kondisi stop kita pasang gigi ke posisi netral dan mesin dalam keadaan menyala. Kita dorong motor kita dengan kaki (sambil tetap mengendarai di atas motor) dan ketika motor sudah mempunyai kecepatan, pindahkan gigi ke gigi satu dan motor akan menyentak terkejut. Imbangi dengan tarikan gas yang sesuai. Jalan kan dalam gigi satu dan jika diperlukan pindahkan ke gigi 2 dengan cara yang sama. Nah, trik dari ini adalah jika kita kehilangan kecepatan, segera pindahkan gigi ke gigi netral agar nafas motor tidak habis diputaran bawah. cukup simpel kan? jalan netral jalan netral saja. Dari kuningan saya begitu terus hingga dekat Taman Makam Pahlawan mampir ke bengkel motor untuk membeli tali kopling motor. Untuk XRX dibutuhkan tali kopling yang panjang, cari tali kopling untuk vespa karena panjangnya yang pas. Tapi kita tidak memasangnya di bengkel itu karena Pak Bowo bilang mendingan pasangnya di tempat nongkrong nanti.
Setiba di Kalibata, di seberang Taman Makam Pahlawan ada kumpulan tempat makan tenda yang panjang. Di situlah Supermoto Indonesia suka berkumpul setiap hari Jumat malam. Pak Bowo meminta bantuan dari rekan Supermoto Indonesia untuk memasangkan tali kopling ke motor saya. Melihat dia bekerja saya langsung tau dia adalah orang yang sudah lihai dibidangnya. Ternyata dia salah satu anak dari Abah Motor Custom. Saya merasa tenang dan berterima kasih banyak karena mengetahui motor saya dipegang oleh orang yang ahli. Malam ini kita bersantai minum juice hingga jam 12 malam lalu kita kembali ke rumah Pak Bowo di Bintaro. Tapi ternyata ada cobaan lagi yang didatangkan ke arah kita.
Pada perjalanan pulang, Hilmi memperhatikan ban belakang Pak Bowo yaitu motor RT Karion, yang mungkin anda sudah pernah liat, ukurannya sangat besar dan tebal. Saya yang tidak terbiasa mengendarai karion melihatnya biasa saja tetapi Hilmi mengendarai motor yang serupa melihat bahwa ban Pak Bowo kurang angin. Kita menepi dan melihat apa yang terjadi ternyata ada paku yang menancap di ban posisi tegak lurus. This is bad. Saya kaget sekali ternyata ban motor karion yang setebal ban traktor itu bisa juga kempis, pertama kalinya saya dengar ban karion bisa kempes. Bocornya tidak terlalu parah, jadi kita tetap lanjutkan perjalanan ke Bintaro, tetapi dengan kecepatan yang terkontrol. Sesampai di sana, terlalu rumit untuk membuka ban motor karion sendiri dan terlalu malam untuk bengkel motor yang bagus buka. Pagi itu harus berangkat ke Maleber jadi Pak Bowo mengambil keputusan yang berat...dia menggunakan motor karion yang lain (dia punya banyak btw). Kalian tentu tau kan rasanya mengendarai motor yang buka motor settingan kita? tidak enak. Pasti kita semua sudah merasa keterikatan dengan motor masing-masing dan Pak Bowo harus pergi tanpa motornya.
Pak Bowo sudah pergi tidur, sementara saya dan Hilmi masih mengutak-atik lampu motor saya dan kabel kopling. Memastikan semua aman. Malam itu saya merasakan firasat buruk mengenai perjalanan ini ke Maleber. Tali kopling saya putus dan motor Pak Bowo kempes ban belakangnya, semua di saat mau berangkat. Ternyata dibandingkan apa yang akan terjadi di Maleber sana nanti, kejadian malam ini tidak ada apa2nya.
bersambung.....







